PATEMBAYATANJATI Prestasi Balai Bahasa DIY Berkatketekunan, ketegasan, dan kegigihannya, dalam waktu yang relatif singkat, masyarakat mulai meninggalkan perilaku-perilaku syirik, khurafat, dan berbagai macam kemungkaran lainnya. Diceritakan bahwa suatu ketika Anregurutta As'ad diundang untuk menghadiri pemakaman salah seorang kerabat Arung Matowa Wajo (Raja Wajo) Haji Andi Maddukkelleng. PortalKudus - Simak berikut Bahasa Jawanya angka 1 sampai 10, inilah Bahasa Jawa angka 1 sampai 10 krama halus dan ngoko.. Bagi kalian yang bingung dan mencari Bahasa Jawanya angka 1 sampai 10 ngoko dan krama halus, simak artikel ini hingga selesai.. Artikel ini akan menyajikan Bahasa Jawa angka 1 sampai 10 ngoko dan krama halus guna menjadi panduan agar membantu belajar kalian. Lataratau tempat kejadian cerita rakyat Nenek Pakande dari Sulawesi Selatan mengambil lokasi di sebuah desa yang berada di daerah Soppeng. Sementara itu, kejadian-kejadian di dalam kisahnya berlangsung di depan rumah ibu dua anak, rumah sang kepala desa, dan Balla Raja. 4. Alur. Dongeng dari masyarakat Bugis ini mempunyai alur maju atau progresif. bukukurikulum 2013 bahasa indonesia. Enter the email address you signed up with and we'll email you a reset link. Sastradaerah yang ditemukan di Sulawesi bagian selatan (meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah) bukan hanya dalam bentuk tertulis, melainkan dalam bentuk lisan juga. Di antara sastra yang terdapat di daerah Jakarta Desember 1989 Lukman Ali v f PRAKATA Naskah Sastra Usan Prosa Bugis ini adalah sebagai sumber bacaan bagi masyarakat yang sedang berkembang. Di samping itu, karya sastra ini dapat membantu meningkatkan pengetahuan, memperluas pandangan, serta mem- pertinggi budi pekerti dan kebudayaan. Withsturdy performances in blockbusters, like Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (The Sinking of Van der Wijck) late last year and 5cm, under his belt the 28-year-old has proven he is in the same Begitu Hamka melukiskan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, novel klasik yang pertama kali terbit pada 1938 Novel karya Buya sendiri dulunya merupakan sebuah cerita bersambung yang dimuat di CeritaRakyat - Legenda Gunung Bromo Singkat. Alkisah, pada jaman dahulu hiduplah seorang pemuda bernama Joko Seger yang jatuh hati kepada Roro Anteng. Mereka pun menjalin kasih dan memutuskan untuk segera menikah. PortalKudus - Berikut ini biantara Sunda pendek kebersihan, teks pidato Bahasa Sunda singkat padat dan jelas tentang kebersihan terbaru.. Bagi kalian yang bingung dan mencari contoh biantara Sunda pendek dan singkat , simak artikel ini hingga selesai.. Artikel ini akan menyajikan contoh biantara Sunda pendek dan singkat tema pendidikan kebersihan lingkungan untuk tugas kalian guna menjadi Kumpulancerita, dongeng dan legenda rakyat terbaik dari cerita rakyat sulawesi selatan yang diceritakan turun temurun dari nenek moyang kita, memiliki banyak pesan moral dan nilai-nilai budaya. Ceritalegenda rakyat Bugis yang telah diinventrisasi dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai dokumentasi untuk pelestarian budaya masyarakat Bugis, dipublikasikan sebagai buku cerita atau bahan ajar, serta sebagai bahan masukan bagi pemerintah Sulawesi Selatan dan pemerintah di daerah Bugis untuk merumuskan kebijakan pelestarian nilai Bagaimana cara membuat Perahu Pinisi?Ceritakan dengan singkat kepada keluargamu! Inilah soal nomor dua dari Materi Tayangan Program Belajar dari Rumah TVRI untuk siswa-siswi SD Kelas 4-6 adalah Mengenal Masyarakat Bugis Makassar pada Rabu 13 Mei 2020 . Adapun tujuan Kompetensi literasi yang ingin dicapai dari pembelajaran hari ini yaitu Siswa dapat memahami paparan lisan tentang Sewaktu kecil, di kampung saya di Wajo, dari orang tua dan kakek-nenek saya, saya sering mendengar penggalan cerita tentang kehidupan jawara atau jagoan bangsawan Bugis yang ternyata adalah bagian dari Galigo." Pemuda ini terlihat fasih berbicara tentang naskah ini. Tapi orang seperti Maqbul sangat sedikit. Bugiswartacom, Bone -- - La Mellong atau yang di gelar Kajao Laliddong adalah penasehat Raja Bone ke 6 dan ke 7 yang terkenal kecerdasan dan kebijaksanaannya . Sebagian kisah tentang kecerdikannya menjadi cerita rakyat di Bone secara turun temurun. saya sebagai orang Bone melewati masa kecil dengan cerita rakyat ini mencoba melakukan reproduksi 3xyCbCR. Beberapa waktu yang lalu legenda cerita rakyat bugis sangiangseri dan meong palo Karellae telah di publikasikan dalam bentuk cerita rakyat dikesempatan ini Ringkasan cerita dongeng dari Sulawesi Selatan mengenai Meongmpalo Karellae yang dikisahkan dalam bentuk cerita rakyat pendekNah untuk lebih jelasnya cerita rakyat singkat dari sulawesi selatan disimak saja berikut ini yang berisi penjelasan, ringkasan cerita serta nilai moral atau pesan moral kehidupan dalam cerita rakyat yang berasal dari sulawesi selatan dibawah tentang Kisah Meong Palo Karellae Cerita Rakyat dari Sulawesi SelatanMeongmpalo adalah sebutan untuk kucing belang tiga atau berwarna tiga, dan Meongmpalo Karellae adalah kucing belang tiga berjenis kelamin jantan pada masyarakat belang tiga umumnya berjenis kelamin betina, jantan sangat jarang atau bahkan langka. Jikapun ada biasanya memiliki cacat dan tidak bertahan lama karena adanya kelainan pada kucing belang tiga berjenis kelamin jantan, akhirnya dikaitkan dengan mitos di berbagai masyarakat bugis, Meongmpalo Karellae adalah pengawal setia Sangiang Serri Dewi Padi, yang kisahnya terdapat dalam kitab Sureq pembacaan kisah Meongmpalo Karellae dilakukan pada upacara Maddoja Bine, yaitu upacara penyemaian bibit padi. Dipercaya bahwa, jika si pencerita kisah ini merasakan kegembiraan saat membacanya, maka menjadi pertanda bakal baiknya hasil panen, pun cerita Meongmpalo Karellae sudah jarang dijumpai saat ini. Kalaupun ada biasanya hanya seremonial saja, dan tidak lagi menjadi bagian budaya yang hidup di cerita Meongmpalo Karallae sebagai berikutKetika Meongmpalo Karellae tinggal di daerah Tempe dan bermukim di Wage sekarang Kabupaten Wajo kehidupannya senantiasa bahagia, senang, tenteram, tanpa pernah mengalami penderitaan hidup dan siksaan rumah yang ditempatinya sangat penyabar, berbudi luhur, dan bijaksana. Akan tetapi penguasa langit menimpakannya nasib buruk sehingga Meongmpalo dibawa ke Soppeng, kemudian ke Bulu, dan akhirnya menetap di Lamuru. Di tempat itu dia mulai merasakan penderitaan dan waktu, tuannya yaitu pemilik rumah yang ditempatinya, pulang dari pasar membawa ikan ceppek-ceppek dan diambilnya seekor yang cukup marah dan memukulnya dengan gagang parang. Meompalo karellae menjerit merasakan kepalanya serasa mau pecah dan penglihatannya sakitnya dia berlari terbirit-birit menuju ke arah Enrekang, dan sampailah di Maiwa. Di tempat itu ia pun mendapatkan perlakuan yang sama seperti di sebuah rumah, dia makan kerak nasi dan tulang ikan, sang tuan pemilik rumah melemparinya dengan sakkaleng sepotong papan yang biasa dijadikan alas untuk membersihkan ikan.Meongmpalo lari menghindar hingga naik ke atas rangkiang lumbung padi tempat bersemayamnya Sangiang Serri Dewi Padi.Mendengar keributan, Sangiang Serri terbangun dan menjadi sangat murka atas perbuatan penghuni rumah kepada Meongmpalo dan memutuskan untuk meninggalkan tempat Serri dan Meongmpalo meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat yang baik, namun tidak menemukan satu pun tempat yang menurutnya nyaman untuk Sangiang Serri memutuskan untuk kembali ke langit dengan diantarkan oleh halilintar dan disertai kilat. Sesampainya di benua langit, mengadulah Sangiang Serri kepada ayahandanya perihal perilaku masyarakat di pengakuan putrinya, Batara Guru menasihatinya dan memintanya untuk kembali ke dunia. Dengan berat hati, Sangiang Serri kembali ke dunia di tengah malam buta, diantarkan halilintar dan guntur, dan sampailah dia di tanah daerah Barru, Pabbicara juru bicara bersama orang Barru berkumpul bersama menyambutnya secara adat dan melakukan peghormatan yang seharusnya kepada Sangiang dan pelayanan yang baik yang dilakukan oleh Pabbicara juru bicara dan rakyat Barru, diterima dengan senang hati oleh Sangiang karena itu, Sangiang Serri menyatakan niatnya untuk tinggal di daerah Barru dengan syarat bahwa Pabbicara dan masyarakat Barru mau menerima dan mengamalkan amanah dari Batara Guru, yaituJanganlah bertengkar pada saat menjelang malam atau pagi, begitu pula pada saat tujuh malam, utamanya malam pelita pada saat menjelang malam, dan nyalakan api di dapur pada waktu periuk dan tempat air minum senantiasa terisi pada waktu pula tempat beras senantiasa berisi, dan jangan sampai mengambil nasi jangan sampai terhambur, jangan pula berbicara pada waktu melakukan perbuatan curang dan mengambil barang-barang yang bukan makan secara diam-diam di dapur, jangan pula makan makanan yang tidak akan menabur benihDuduklah tafakkur menghadap pelita seraya menantikan petunjuk dari lubuk pembicaraanmu, tingkah lakumu, keinginan, dan pula matamu dari sesuatu yang jelek atau padi sudah tua atau masakPanenlah seikat demi seikat agar tidak terhambur, dan simpanlah di lumbung, dan usahakan jangan ditempatkan bersama buah-buahan yang dapat busuk karena bisa merusak masyarakat Barru bersedia mengamalkan amanah tersebut, dan atas janji mereka maka Sangiang Serri bersama rombongan tinggal menetap di ringkasan Meongmplao Karallae di atas diperoleh dari salah satu kumpulan tulisan hasil penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar yaitu, Bosara Nomor 19 Tahun VIII/2001, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Arsip Warisan Budaya TakBenda BPNB Sulsel Halo sobat kali ini kita akan membahas tentang Cerita Legenda Asal Usul Pulau Batam. Kisah ini telah menjadi cerita turun-temurun di masyarakat kepulauan Batam sendiri adalah kota terbesar di provinsi Riau. Wilayah Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil dan terdapat di kawasan Selat Singapura dan Selat sekarang Tumbuh menjadi kota Industri, eskpor dan pariwisata yang sangat baik di Indonesia. Tapi sebelum menjadi kota modern seperti sekarang Batam memiliki cerita asal usul pulau Batam yang menarik seperti berikut Legenda Asal Usul Pulau BatamSumber jaman dahulu kala berlayarlah seorang Nahkoda bergelar Qari Abdul Malik. Beliau berlayar dari Siantan hendak ke Pulau Penang. Beliau sebenarnya seorang Bugis Makasar yang telah lama menetap di Tarempa sebagai Nakhoda dikenal karena memiliki ilmu perbinatangan dan telah menjadi nakhoda perahu-dendan guntuk dengan banyak pengalaman melayari samudra yang luas yang terbentang dari Laut Cina Selatan hingga ke perairan Riau dan Selat itu di juga diberi gelar Qari Abdul Malik oleh penduduk Siantan karena ilmu agamanya. Meski telah lama di Melayu, bahasa bugisnya masih kental, dan jadi tak heran jika dalam pengucapan huruf mati “nun” diujung kata menjadi “nga” oleh beliau. Juga sebaliknya, huruf mati ”nga” diujung kata diucap “nun”.Maka jangan heran Sobat, bagi beliau pulau Siantan tempat tinggalnya, disebut Siantang. pulau Bunguran menjadi Bungurang, disusun Tebang-ladang sebaliknya juga Asal Usul Situ BagenditSuatu hari, dalam pelayaran dari Siantan ke Pulau Pinang. perahu-dendang Nahkoda Alang dihadang oleh angin ribut. Haluan perahu-dendang tertiup ombak ke Selat Riau, hampir menyentuh ke pantai Bintan. Tapi mereka tidak langsung turun karena kabut dan hari sudah malam.“Lihat itu bintang,” pekik Nakhoda Alang kepada juru mudi kepercayaannya yang sedang memegang kemudi. “Ke kanang…nganang…,” beliau menjerit agar terdengar si juru mudi, karena takut suara angin ribut berdesing-desing.“Hari ini Kabut Nahkoda, tak kelihatan bintang !” sahut si juru mudi seraya memainkan kemudi. “Tak kelihatan bintang, Nakhoda…”“Pulau Bintang… awas, dendan ini pecah kena batu rakit Bintang,” jerit Nakhoda Alang lagi”. Ke kanang…naganang… belok ke kanang…,” kata beliau pula seraya menunjuk-nunjuk ke arah kanan untuk menghindari batu rakit di Pulau Bintan.“Oh… ini pulau Ngenang…” pikir taikong sambil membelokkan kemudi, mengarahkan haluan perahu-dendang ke Ngenang akhirnya Pulau disebelah kanan Selat Riau itu pun sampai saat ini disebut Pulau Ngenang. Padahal maksud Nakhoda sendiri agar si juru mudi itu berbelok ke arah kanan, tapi karena suara angin ribut malah menjadi pulau Ngenang.“ Turung layar kita berdayun”, perintah Nahkoda lagi, maksudnya turunkan layar dan kita berdayung berdayunglah anak buah kapal menyusur pantai hingga masuk ke sebuah sungai. Karena air sungai cukup tenang dan tidak ada gelombang walau pun tengah angin ribut. Hingga perahu yang mereka kayuh itupun sampai ke tiba-tiba, “dreek… druk, plas…” perahu mereka pun berhenti, oleng sedikit, dan air sungai pun menyebur masuk ke dalam perahu. Dalam sekejap mata air nyaris melimpah ruah.“Hei ada apa?” pekik Nakhoda Alang sambil memanggil salah satu anak buah perahu. ”terjung ke sungai, lihat apa yang kita tabrak?”Setelah timbul, pelaut yang menyelam itu berkata, “Kita menabrak langkang kayu berduri? Keras sekali”Mendengar itu Nakhoda terkejut dan bertanya“Ha? Terlanggar lankan berduri ? Keras duri lankan itu?” maksudnya “terlanggar langkan berduri? Keras durinya?”“Duri lankan kayu, berteras keras, ya Tuan Qari Malik,” sahut penyelam. “keras sekali duri lankan kayu itu!”“Angkak… angkak…” perintah Qari Malik, maksudnya angkat saja. ”angkak duri angkan itu!”.Penyelam itu pun menolaknya, dan setelah sampai di atas kapal dia berkata kepada Nakhoda Alang yang berdiri di pinggir perahu mereka ke.“tidak dapat menolak duri angkang melekat pada batang kayu, Nakhoda!” kata penyelam itu seraya mencuaskan air di mukanya. “banyak batang kayu berduri yang tumbang dalam sungai ini, Nakhoda.” Jelasnya.“O… sungai berduri lan-kan banyak batan kayu?”Akhirnya, setelah peristiwa sungai banyak duri langkan kayu itu disebut Sungai Duri Angkang, seperti pendengaran pelaut yang angin ribut berhenti. maka berangkatlah perahu sang Nakhoda Alang ke Pulau Pinang tujuannya. Di pelabuhan mereka berbongkar-maut, menjual-membeli barang dagangannya.“baru pertama kali ini Qari Malik terlambat masuk ke Pulau Pinang?” Tanya saudagar langganan beliau. “Biasanya belum selang tiga bulan perahu Nakhoda telah masuk.”“Kami terhadang angit ribut di tengah jalan, nyaris pecah di Pulau Bintang,” kata Nakhoda Alang alias Qari Abdul Malik.“Setelah menganang-nganang, masuk sungai penuh deduri-duri lan-kan batan kayu. Perahu saya bocor, perlu suku bulan diperbaiki,”“Dimana?” tanya saudagar ke Nakhoda Alang lagi, karena kurang jelas. ”Di pulau mana angin ribut itu berhenti?”“Itu, di pulau banyak batan kayu sebelah barat Pulau Bintang,” tutur Nakhoda Alang “Itu… di Pulau Batan”. Sejak itu, menyebarlah nama pulau di sebelah barat Pulau Bintan, disebut Pulau Pulau Batan ini menjadi Pulau Batam? Penukaran “nun” menjadi “mim” tulisan Arab-Melayu diujung kata “Batan” itu, sudah semakin kabur. Tidak diketahui orang lain. Namun terasa enak diucapkan “Batam” daripada perkataan “Batan”. dan itulah asal usul pulau juga Asal usul itulah kawan Legenda asal usul pulau batam, semoga informasi bermanfaat bagi kamu. Dan jangan lupa untuk tetap bersama kami untuk – kisah menarik follow and like us Kisah sejarah awal mula dan asal usul suku Bugis Sulawesi Selatan. Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. Sejarah Awal Mula Dan Asal Usul Suku Bugis Bagaimana sejarah suku bugis dan kebudayaan suku bugis dan asal usul suku bugis yang terletak di sulawesi selatan, selengkapnya disimak saja berikut ini. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware Yang dipertuan di Ware adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton. Perkembangan Suku Bugis Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina yang kelak menjadi Pammana, Mario kelak menjadi bagian Soppeng dan Siang daerah di Pangkajene Kepulauan Masa Kerajaan Kerajaan Bone Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Kerajaan Makassar Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar kemudian terpecah menjadi Gowa dan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar. Kerajaan Soppeng Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng. Kerajaan Wajo Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina Pammana beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Konflik antar Kerajaan Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut “tellumpoccoe”. Penyebaran Islam Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur Datuk ri Bandang yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman Datuk Patimang menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani Datuk ri Tiro yang menyiarkan Islam di Bulukumba. Kolonialisme Belanda Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang tidak sudi berada dibawah Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan benteng Somba Opu luluh lantak. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa. Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-6 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Bugis-Makassar baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI. Masa Kemerdekaan Para raja-raja di Nusantara bersepakat membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Bugis-Makassar adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi. Mata Pencaharian Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan. Bugis Perantauan Kepiawaian suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka. Penyebab Merantau Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan. Bugis di Kalimantan Selatan Pada abad ke-17 datanglah seorang pemimpin suku Bugis menghadap raja Banjar yang berkedudukan di Kayu Tangi Martapura untuk diijinkan mendirikan pemukiman di Pagatan, Tanah Bumbu. Raja Banjar memberikan gelar Kapitan Laut Pulo kepadanya yang kemudian menjadi raja Pagatan. Kini sebagian besar suku Bugis tinggal di daerah pesisir timur Kalimantan Selatan yaitu Tanah Bumbu dan Kota Baru. Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Bugis. Demikianlah tentang kisah awal mula suku bugis sulawesi selatan atau tentang asal usul suku bugis di sulawesi selatan semoga bermanfaat untuk menambah wawasan tentag sejarah dan budaya di Indonesia. Pustaka Makassar - Suku Bugis adalah salah satu suku yang berasal dari Sulawesi Selatan. Kelompok etnis ini merupakan suku terbesar selain Suku Makassar, Mandar dan Sulawesi Selatan, Suku Bugis mendiami wilayah Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, Pare-pare, Barru, Sinjai hingga Bulukumba. Selain itu, orang Bugis juga tersebar hampir di seluruh Nusantara, bahkan hingga ini lantaran, sejak zaman dulu orang-orang Bugis dikenal sebagai pelaut dan perantau yang handal. Mereka berlayar hingga ke Malaysia, Singapura, Asia hingga Afrika. Suku Bugis memiliki sejarah panjang dan keunikan yang layak untuk dikulik. Lantas, bagaimana kisah dibalik kehidupan masyarakat Bugis ini?Berikut penjelasan lengkap tentang Suku Bugis yang telah dihimpun detikSulsel dari berbagai sumberSejarah dan Asal-Usul Suku BugisMelansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Wajo, sejarah nenek moyang suku Bugis berasal dari Etnis Deutro Melayu Melayu muda. Yaitu Bangsa Austronesia dari Yunan China Selatan yang datang ke Nusantara sekitar tahun 500 Suku Bugis sendiri berasal dari kata to Ugi diterjemahkan sebagai orang Bugis. Istilah "Ugi" diambil dari nama raja pertama dari Kerajaan Cina Daerah Pammana di Kabupaten Wajo, yang bernama La menamai diri mereka dengan sebutan To Ugi yang artinya orang-orang pengikut La bahwa La Sattumpugi memiliki anak bernama We Cudai. Ia menikah dengan seorang Lelaki dari Kerajaan Luwu bernama Sawerigading dan memiliki anak bernama La La Galigo inilah yang kemudian menulis karya sastra terpanjang di dunia dengan jumlah lebih dari halaman yang berjudul I La Galigo Sureq Galigo. Isinya tentang asal usul penciptaan manusia di dalam tradisi masyarakat keturunan La Sattumpugi dan Sawerigading beserta pengikutnya inilah tersebar ke beberapa daerah. Mereka membentuk kerajaan, kebudayaan, dan aksara sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Bone, Soppeng, Wajo, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan perkembangannya mereka kemudian menjalin pertalian dan pernikahan dengan suku-suku lain seperti Makassar dan dan Sistem Kepercayaan Suku BugisMelansir Jurnal Universitas Gadjah Mada UGM Yogyakarta yang berjudul "Religiusitas dan Kepercayaan Masyarakat Bugis-Makassar", disebutkan bahwa terhitung 97% orang Bugis merupakan penganut agama Islam. Mereka menganut Islam secara taat dalam artian dalam prakteknya belum sepenuhnya menjalankan syariat Islam, namun mereka tidak mau dikatakan bukan kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat Bugis yang menjalankan praktek-praktek kepercayaan Attoriolong. Yaitu kepercayaan nenek moyang dulu sebelum datangnya praktek-praktek attoriolong tersebut seperti mappanre galung memberi makan sawah, maccera tasi' memberi persembahan pada laut, massorong sokko patanrupa memberikan persembahan kepada dewa berupa empat macam beras ketan dan lain masyarakat yang hingga kini masih memegang teguh kepercayaan Attoriolong ini terdapat di komunitas tolotang di Kabupaten Sidrap dan Komunitas Ammatoa Kajang di dan Aksara Suku BugisTak banyak suku di Indonesia yang memiliki bahasa sekaligus aksara tulisannya sendiri. Suku Bugis termasuk salah satu suku bangsa yang memiliki aksara dan hal bahasa, Suku Bugis memiliki bahasa tersendiri yang yaitu Bahasa Bugis basa ogi. Bahasa Bugis ini memiliki beragam dialek tergantung wilayah Laman Peta Bahasa Kemendikbud ada 27 dialek dari bahasa Bugis ini. Diantaranya dialek Bone, dialek Pangkep, dialek Soppeng, dialek Pinrang, dialek Sinjai dan lain di daerah Sulawesi, penutur Bahasa Bugis juga tersebar di beberapa daerah lain seperti Kepulauan Seribu Jakarta, Jambi, Kalimantan Selatan dan Timur, Bali, Lampung, dan NTB. Masing-masing daerah tersebut juga memiliki ragam dialek yang pada tulisan, itu suku Bugis memiliki aksara khusus yang disebut dengan aksara lontara. Pada zaman dahulu, naskah-naskah lontara yang berisi nasihat atau mantra-mantra ditulis di atas daun lontar. Karena itu aksara tersebut disebut dengan aksara lontara dalam suku bugis berupa uki sulapa eppa tulisan segi empat. Aksara lontara tersebut terdiri dari 23 hurufHuruf lontara bugis Foto UNMMasing-masing ke-23 huruf tersebut dapat dibubuhkan tanda baca bunyi berupa "O - E - E".Orang Bugis pada awalnya hanya berdomosili di daratan Sulawesi. Dalam perkembangannya, sebagai orang Bugis merantau ke berbagai wilayah dan Jurnal Universitas Hasanuddin Makassar yang berjudul "Budaya Bugis dan persebarannya dalam Perspektif Antropologi Budaya", orang Bugis merantau dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah untuk meninggalkan rajanya yang itu, disebutkan bahwa profesi orang Bugis secara tradisional adalah bertani. Namun, mereka kemudian memutuskan untuk merantau demi kepentingan sisi lain, orang Bugis dikenal sebagai pelaut yang handal dan pemberani sejak dahulu. Mereka dengan kapal phinisinya menjelajahi kepulauan Nusantara, bahkan sampai ke ditemukan perkampungan-perkampungan Bugis di berbagai daerah dan negara. Seperti di pusat kota Singapura, terpampang gambar phinisi dan di sekitar tempat itu diberi nama Bugis itu, komunitas Bugis juga diketahui sudah ada di Selat Malaka jauh sebelum Kota Malaka dibangun. Komunitas ini bahkan telah ada sejak Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada abad X-XI. Simak Video "Diduga Depresi, Pria di Makassar Sandera-Ancam Bunuh Bayinya" [GambasVideo 20detik] edr/alk

cerita rakyat bugis singkat